Tag

pin

Browsing

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang kuat syahwatnya namun belum mampu untuk menikah agar berpuasa. Puasa baginya akan menjadikan pemutus syahwat jiwa, karena puasa akan menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa melakukan ketaatan kepada Allah. (Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Dan sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka.

Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh 70 musim.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa’id Al-Khudry, ini adalah lafadz Muslim. “Tujuh puluh musim” yakni perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48)

Di hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil ‘Ash. Hadits shahih)

Bahkan barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shagir 1/273.

Referensi:
Sifat Puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, Penerbit Pustaka Al-Haura.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنَ الإِْثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ…

Allah jalla wa ‘ala berfirman,
“Janganlah kalian ber-tajassus (mencari-cari kejelekan orang lain).” [Al-Hujurat: 12]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Maknanya: Janganlah bertanya (untuk mencari-cari aib) yang tersembunyi.” [Fathul Baari, 1/96]

Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata:
Janganlah kalian memeriksa dan mencari-cari aib-aib kaum muslimin, biarkanlah seorang muslim sesuai kondisinya dan hendaklah menutup mata dari kondisi-kondisinya yang apabila engkau memeriksanya, nampak darinya apa yang tidak sepatutnya.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 801]

AGUNGNYA KEHORMATAN SEORANG MUSLIM MELEBIHI KAKBAH MAKA JANGANLAH ENGKAU MEMBURU DAN MENGOLEKSI AIB SAUDARAMU:

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling dengki, janganlah saling melakukan najasy (menawar suatu barang dengan harga yang tinggi padahal tidak niat membelinya tetapi hanya untuk memancing orang lain agar menawar dengan harga yang lebih tinggi), janganlah saling membenci, janganlah saling mencari-cari kejelekan, janganlah saling membelakangi, janganlah sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, maka janganlah menzaliminya, janganlah menghinanya, (dalam riwayat At-Tirmidzi: janganlah mengkhianatinya dan janganlah berdusta kepadanya) dan janganlah merendahkannya.

Ketakwaan itu di sini, seraya beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek apabila dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan mengganggu darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Sumber :
www.fb.com/sofyanruray.info