Author

Klik Sunnah

Browsing

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang memberi makanan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. (HR. at-Tirmidzi : 807 dan Ibnu Majah : 1746)

Redaksi hadits menunjukkan bahwa apabila seorang memberikan hidangan berbuka meski dengan sebiji kurma kepada orang yang berpuasa, maka dia akan memperoleh pahala puasa sebagaimana yang dikerjakan orang tersebut. Hidangan berbuka itu tidak mesti mengenyangkan orang yang berpuasa. (Majmu’ Fataawa Ibn Utsaimin 20/93)

Pendapat lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “memberi makanan berbuka” adalah memberi makanan yang mengenyangkan orang yang berpuasa. Jika dia hanya mampu menghidangkan kurma, susu, atau air, maka pahala yang diperoleh sebatas upaya dan keikhlasan yang dikerahkan. Peruntukan hidangan berbuka dalam hadits di atas bersifat umum, mencakup setiap orang yang berpuasa, baik dia seorang yang kaya atau miskin, maupun puasa yang dikerjakan adalah puasa yang hukumnya wajib maupun sunnah. Majmu’ Fataawa Ibn Baaz 25/207

Apabila seseorang yang melanggar sumpah kemudian memberikan hidangan berbuka kepada sepuluh orang miskin yang berpuasa, maka tindakannya tersebut sah apabila diniatkan sebagai kaffarah sumpah. (Majmu’ Fataawa 23/141)

Tidak pernah ada (dalam syar’iat tentang) perayaan dalam Islam kecuali hari Jum’at yang merupakan Ied (hari Raya) setiap pekan, dan hari pertama bulan Syawaal yang disebut hari Ied al-Fitr dan hari kesepuluh Dzulhijjah atau disebut Ied Al-Adhaa – atau sering disebut hari ‘Ied Arafah – untuk orang yang berhaji di ‘Arafah dan hari Tasyriq (tanggal ke 11, 12, 13 bulan Dzul-Hijjah) yang merupakan hari ‘Ied yang menyertai hari Iedhul ‘Adhaa.

Perihal hari lahir orang-orang atau anak-anak atau hari ultah perkawinan dan semacamnya, semua ini tidak disyariatkan dalam (Islam) dan merupakan bid’ah yang sesat.
(Syaikh Muhammad Salih Al-Utsaimin)

Sumber :
Al-Bid’u wal-Muhdatsaat wa maa laa Asla Lahu- Halaman 224 Fataawa fadhilatusy-Syaikh Muhammad As-Saalih Al-‘Utsaimin- Jilid 2, Halaman 302.

Allah bersama kita dengan pendengaranNya, penglihatanNya, dan ilmuNya. Allah ta’ala berfirman yang artinya: قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ “Janganlah kalian berdua…

Alhamdulillah, kaum lelaki tidak dibolehkan mewarnai jenggotnya dengan warna hitam. Berdasarkan dalil-dalil yang melarangnya. Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah bahwa ia berkata: Abu Quhafah dibawa ke hadapan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pada hari penaklukan kota Makkah dalam keadaan putih rambutnya.

Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassalam berkata:
“Warnailah ubannya dan hindarilah penggunaan warna hitam!”
(H.R Muslim, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Akan ada kelak di akhir zaman suatu kaum yang mewarnai rambut mereka dengan warna hitam bagaikan anak-anak burung merpati, mereka tidak akan mencium aroma surga.”

Namun dianjurkan agar mewarnai rambut dengan selain warna hitam berdasarkan hadits Jabir terdahulu. Dianjurkan agar mewarnai rambut dengan menggunakan inai atau sejenisnya yang membuat warna rambut menjadi merah atau kuning, karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mewarnai rambut beliau dengan warna kuning. Dan berdasarkan
riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu mewarnai rambutnya dengan inai dan al-katam (sejenis tetumbuhan untuk mewarnai rambut).

Dan juga berdasarkan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Sesungguhnya bahan terbaik untuk mewarnai uban kamu ialah inai dan al-katam.”
(H.R Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi, dan dinayatakan shahih oleh beliau)

(Dinukil dari kumpulan Fatwa Lajnah Daimah V/166-167. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa)

Dalam ayat “Iyyaka na’budu” terkandung pernyataan bahwa hanya kepada Allah-lah kita menyembah, sehingga hanya kepada-Nya seluruh peribadatan kita persembahkan. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad): sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, karena itulah aku diperintahkan dan aku adalah muslim yang paling awal “(Qur’an surat al-An’am ayat 123-124)

Seorang muslim menyerahkan ibadahnya hanya kepada Allah semata. Berbeda dengan orang-orang musyrikin yang selain menyembah Allah, mereka juga menyembah berhala-berhala. Mereka berdoa kepada Allah, namun menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai perantara (wasilah) supaya bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah.

“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali (penolong), (mereka mengatakan): “kami tidaklah menyembah mereka kecuali supaya mendekatkan diri kami kepada Allah.” (Qur’an surat az-Zumar ayat 3)

Abdullah Ibnu Abbas ketika menjelaskan firman Allah:
“Kaum Nuh (yang kafir) berkata: “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan janganlah kalian tinggalkan Wadd, Suwaa’, Yaghuts, dan Nasr.“ (Qur’an surat Nuh ayat 23)

Berkata (Ibnu Abbas): “Ini (Wadd, Suwaa’, Yaghuts, dan Nasr) adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nuh yang ketika mereka meninggal, setan membisikkan kepada mereka: ‘hendaknya kalian membuat patung di tempat dulu mereka bermajelis dan berilah nama sesuai dengan nama-nama mereka’, kemudian kaum tersebut mengerjakan bisikan setan itu. Pada awalnya patung-patung itu tidak disembah, namun lama-kelamaan ketika kaum pembuat patung tadi meninggal dan ilmu (syariat) dilupakan, patung-patung itu disembah.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir Surah Nuh ayat 23)

Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memohon dan berdoa secara langsung pada-Nya tanpa perantara. .
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah (hanya) milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada Allah (dengan menyertakan) suatu apapun bersama-Nya.“ (Qur’an surat al-Jin ayat 18)

Rujukan:
Memahami Makna Bacaan Shalat, Abu Utsman Kharisman