Author

Klik Sunnah

Browsing

Tidak pernah ada (dalam syar’iat tentang) perayaan dalam Islam kecuali hari Jum’at yang merupakan Ied (hari Raya) setiap pekan, dan hari pertama bulan Syawaal yang disebut hari Ied al-Fitr dan hari kesepuluh Dzulhijjah atau disebut Ied Al-Adhaa – atau sering disebut hari ‘Ied Arafah – untuk orang yang berhaji di ‘Arafah dan hari Tasyriq (tanggal ke 11, 12, 13 bulan Dzul-Hijjah) yang merupakan hari ‘Ied yang menyertai hari Iedhul ‘Adhaa.

Perihal hari lahir orang-orang atau anak-anak atau hari ultah perkawinan dan semacamnya, semua ini tidak disyariatkan dalam (Islam) dan merupakan bid’ah yang sesat.
(Syaikh Muhammad Salih Al-Utsaimin)

Sumber :
Al-Bid’u wal-Muhdatsaat wa maa laa Asla Lahu- Halaman 224 Fataawa fadhilatusy-Syaikh Muhammad As-Saalih Al-‘Utsaimin- Jilid 2, Halaman 302.

Allah bersama kita dengan pendengaranNya, penglihatanNya, dan ilmuNya. Allah ta’ala berfirman yang artinya: قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ “Janganlah kalian berdua…

Alhamdulillah, kaum lelaki tidak dibolehkan mewarnai jenggotnya dengan warna hitam. Berdasarkan dalil-dalil yang melarangnya. Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah bahwa ia berkata: Abu Quhafah dibawa ke hadapan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pada hari penaklukan kota Makkah dalam keadaan putih rambutnya.

Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassalam berkata:
“Warnailah ubannya dan hindarilah penggunaan warna hitam!”
(H.R Muslim, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Akan ada kelak di akhir zaman suatu kaum yang mewarnai rambut mereka dengan warna hitam bagaikan anak-anak burung merpati, mereka tidak akan mencium aroma surga.”

Namun dianjurkan agar mewarnai rambut dengan selain warna hitam berdasarkan hadits Jabir terdahulu. Dianjurkan agar mewarnai rambut dengan menggunakan inai atau sejenisnya yang membuat warna rambut menjadi merah atau kuning, karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mewarnai rambut beliau dengan warna kuning. Dan berdasarkan
riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu mewarnai rambutnya dengan inai dan al-katam (sejenis tetumbuhan untuk mewarnai rambut).

Dan juga berdasarkan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Sesungguhnya bahan terbaik untuk mewarnai uban kamu ialah inai dan al-katam.”
(H.R Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi, dan dinayatakan shahih oleh beliau)

(Dinukil dari kumpulan Fatwa Lajnah Daimah V/166-167. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa)

Allah bersemayam di atas arsy di atas langit tinggi dan meninggi. Maka sangat keliru jika ada di antara manusia mengatakan bahwa Allah berada di…

Dalam ayat “Iyyaka na’budu” terkandung pernyataan bahwa hanya kepada Allah-lah kita menyembah, sehingga hanya kepada-Nya seluruh peribadatan kita persembahkan. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad): sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, karena itulah aku diperintahkan dan aku adalah muslim yang paling awal “(Qur’an surat al-An’am ayat 123-124)

Seorang muslim menyerahkan ibadahnya hanya kepada Allah semata. Berbeda dengan orang-orang musyrikin yang selain menyembah Allah, mereka juga menyembah berhala-berhala. Mereka berdoa kepada Allah, namun menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai perantara (wasilah) supaya bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah.

“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali (penolong), (mereka mengatakan): “kami tidaklah menyembah mereka kecuali supaya mendekatkan diri kami kepada Allah.” (Qur’an surat az-Zumar ayat 3)

Abdullah Ibnu Abbas ketika menjelaskan firman Allah:
“Kaum Nuh (yang kafir) berkata: “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan janganlah kalian tinggalkan Wadd, Suwaa’, Yaghuts, dan Nasr.“ (Qur’an surat Nuh ayat 23)

Berkata (Ibnu Abbas): “Ini (Wadd, Suwaa’, Yaghuts, dan Nasr) adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nuh yang ketika mereka meninggal, setan membisikkan kepada mereka: ‘hendaknya kalian membuat patung di tempat dulu mereka bermajelis dan berilah nama sesuai dengan nama-nama mereka’, kemudian kaum tersebut mengerjakan bisikan setan itu. Pada awalnya patung-patung itu tidak disembah, namun lama-kelamaan ketika kaum pembuat patung tadi meninggal dan ilmu (syariat) dilupakan, patung-patung itu disembah.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir Surah Nuh ayat 23)

Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memohon dan berdoa secara langsung pada-Nya tanpa perantara. .
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah (hanya) milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada Allah (dengan menyertakan) suatu apapun bersama-Nya.“ (Qur’an surat al-Jin ayat 18)

Rujukan:
Memahami Makna Bacaan Shalat, Abu Utsman Kharisman

Seri Sirah NabawiyahBab 2 – Garis Keturunan Rasulullah ﷺ Rasulullah bersama pamannya Abu Thalib terlibat dalam sebuah peperangan saat beliau berusia 20 tahun.Rasulullah membantu…

Seri Sirah Nabawiyah
Bab 2 – Garis Keturunan Rasulullah ﷺ

Ketika usia Rasulullah telah menginjak dua belas tahun. Abu thalib mengajak Rasulullah turut dalam kafilah dagangnya ke Negeri Syam. Saat itu Negeri Syam dikuasai bangsa Romawi.

Sampai disebuah lembah yang disebut Bushra, sebuah wilayah yang berada di pinggiran Negeri Syam, dan menjadi ibu kota Hurran. Di sana terdapat rahib yang masyhur dengan nama Buhaira, namun ada pendapat lain yang menyebutnya Jurjis. Buhaira lantas mendatangai rombongan Abu Thalib, padahal biasanya pendeta ini tidak pernah menyambangi kafilah Abu Thalib pada perjalan-perjalanan sebelumnya. Kali ini dia mendatangi rombongan karena melihat kehadiran Rasulullah, seraya berkata, “Laki-laki ini akan menjadi penghulu seluruh alam, Dia adalah utusan Tuhan seru sekalian alam, Dia adalah utusan Allah yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Buhairah melanjutkan, “Sebenarnya saat kalian sampai di Aqabah, tidak ada satu pepohonanpun dan satu batupun, kecuali semuanya bersujud. Mereka tidak bersujud kecuali pada seorang Nabi. Akupula mengetahui dari Nubuah yang berada di bawah kedua tulang bahunya yang menyerupai buah apel. Hal ini sebagaimana yang kami temukan dalam kitab kami.”

Buhairah lantas memberi nasihat agar Muhammad jangan diajak ke Syam karena khawatir akan mendapat gangguan dari orang romawi. Kemudian Abu Thalib memerintahkan beberapa pemuda untuk kembali ke mekah bersama Nabi Muhammad yang masih kecil.

Kitab: Ar Rahiqul Makhtum 
Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfur