Author

Farid Ibrahim

Browsing

Shalat berjamaah di masjid adalah salah satu syiar Islam yang agung. Kaum Muslimin telah sepakat bahwa menunaikan shalat lima waktu di masjid termasuk ketaatan paling besar. Allah ta’aala telah mensyariatkan bagi umat ini agar berkumpul di waktu-waktu yang telah ditentukan. Di antaianya adalah; shalat lima waktu, Shalat Jum’at, dua Shalat Id, dan Shalat Kusuf.

Dan perkumpulan yang paling besar dan paling utama adalah perkumpulan di Padang Araffah yang mengisyaratkan kepada kesatuan umat Islam pada akidah; ibadah, dan syiar-syiar agamanya. Perkumpulan besar dalam Islam ini disyariatkan untuk kemaslahatan kaum Muslimin, di sana mereka menjalin hubungan antar mereka, saling mencari tahu keadaan Saudaranya yang lain, dan hal-hal lainnya yang penting bagi umat Islam dengan berbagai macam bangsa dan sukunya.

Sungguh nabi Muhammad telah mendorong umatnya shalat berjamaah, beliau menjelaskan keutamaan dan pahalanya yang besar, seraya bersabda :
“Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.”
(HR. Bukhari no.645 dan Muslim no.650)

Masih mengambil faidah dari ayat “الرحمن الرحيم”…
Bahwa, kita tidak bisa mengandalkan amalan kita semata untuk masuk surga. Kita sangat membutuhkan rahmat-Nya. Lalu, bagaimana dengan ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan bahwa seorang masuk surga disebabkan oleh amalannya? Seperti firman Allah ta’ala:
“Dan itu adalah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan apa yang kalian amalkan.” (Qur’an Surat az-Zukhruf ayat 72)
Maka, jawaban tentang hal ini, sebagaimana perkataan Ibnul Jauzi yang dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahumallah, yakni:

Taufiq (petunjuk) dari Allah ta’ala hingga seorang hamba beramal shalih merupakan rahmat-Nya. Kalau bukan karena rahmat Allah ta’ala, maka tidaklah akan tercapai iman dan ketaatan yang dengan itu bisa dicapai keselamatan.

Bahwasanya seorang hamba (budak) yang beramal untuk Tuannya adalah merupakan hak dari Tuannya. Kalau seandainya Tuan tersebut memberikan ganjaran/balasan, maka itu adalah fadhilah (kelebihan) yang diberikannya.

Terdapat dalam beberapa hadits bahwa masuknya seseorang ke dalam surga adalah karena rahmat Allah ta’ala, sedangkan perbedaan-perbedaan derajat dalam surga dicapai sesuai kadar amalan.

Amalan-amalan ketaatan yang dilakukan seorang hamba terjadi pada masa yang singkat (dunia) sedangkan balasannya (dengan surga, -pen.) adalah kekal. Maka balasan yang kekal untuk sesuatu yang fana (tidak kekal) adalah merupakan suatu fadhilah (kelebihan) bukanlah suatu balasan yang sebanding.”

Rujukan: Buku Memahami Makna Bacaan Sholat, oleh Abu Utsman Kharisman

Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Apabila Allah tabaraka wa ta’ala memberikan rizki kepada seorang hamba berupa kenikmatan maka dia pun bersyukur kepada Allah dengan…

Pertanyaan,

assalamualaikum ustadz
saya mau tanya tentang arti mimpi teman saya, dia perempuan, mimpinya seperti cerita yang bersambung..
Dia bermimpi dirumahnya banyak ular, lalu dia bermimpi lagi di atas perutnya ada ular yang tidur lalu dia bermimpi lagi dia berhadapan dengan ular, di mimpinya temannya dia menyuruh agar dia memegang kepala ular itu, setelah dipegang, ular itu membesar, ular itu meniup-niup dia hingga nangis dan pingsan. Artinya apa ustadz?

Jawaban:

Itu adalah mimpi jelek yang berasal dari setan dan Nabi melarang kita menceritakan mimpi jelek yang kita alami kepada siapa pun.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ فِى الْمَنَامِ كَأَنَّ رَأْسِى ضُرِبَ فَتَدَحْرَجَ فَاشْتَدَدْتُ عَلَى أَثَرِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلأَعْرَابِىِّ « لاَ تُحَدِّثِ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ ». وَقَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدُ يَخْطُبُ فَقَالَ « لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ ».

Dari Jabir, ada seorang arab badui datang menemui Nabi lantas berkata, “Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi lantas bersabda kepada orang tersebut, “Janganlah kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah salah satu kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi” [HR Muslim no 6063].

🌐Artikel www.ustadzaris.com

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنَ الإِْثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ…

Adapun puasa pada bulan Rajab, tidak ada ketetapan dari hadits yang shahih tentang keutamaan puasa dengan cara khusus atau suatu puasa apapun. Maka, apa yang dilakukan sebagian orang dengan mengkhususkan beberapa hari di (bulan rajab) dengan berpuasa seraya meyakini keutamaannya dibandingkan dengan (bulan-bulan) lain, adalah tidak ada asalnya dalam agama.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah kebohongan yang diada-adakan.” (Al-Manar Al-Munif, hal. 96)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tabyinul Ujab, hal. 11: “Tidak ada hadits shahih yang layak dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, tidak juga dalam puasanya atau puasa tertentu , begitu juga (tidak ada) qiyamullail tertentu di dalamnya.”

Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata dalam kitab Fiqih Sunnah, 1/383: “Puasa Rajab tidak ada keutamaan tambahan dibandingkan dengan (bulan-bulan) lainnya. Hanya saja ia termasuk bulan Haram. Tidak ada dalam sunnah yang shahih bahwa berpuasa mempunyai keutamaan khusus. Adapun (hadits) yang ada tentang hal itu, tidak dapat dijadikan hujjah.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang puasa dan qiyam pada malanya di hari kedua puluh tujuh di bulan Rajab, maka beliau menjawab: ”Puasa dan qiyam pada malam di hari kedua puluh tujuh di bulan Rajab serta mengkhususkan untuk itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 20/440)

🌐https://islamqa.info/id/answers/75394/puasa-di-bulan-rajab