Sebagian orang beralasan dengan perkataan di atas untuk bermalas-malasan dan tidak tekun dalam bekerja. Padahal, seorang yang beriman adalah orang yang tekun bekerja, apalagi ketika dia dalam kondisi berpuasa karena momen tersebut momen ketaatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang yang bekerja dengan optimal.” (HR. al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab : 5312 dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah : 1113.)

Sebagian orang yang lain justru melakukan sesuatu yang berkebalikan dengan kandungan perkataan di atas. Mereka justru menjadikan puasa sebagai pembenaran atas hinaan dan minimnya kesabaran mereka atas gangguan orang. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Kalau kalian berpuasa, maka jangan berkata buruk dan bernada tinggi. Kalau ada salah seorang yang menghina atau menghardik, cukup katakan kepadanya, “Saya sedang berpuasa.” (HR. al-Bukhari : 1904 dan Muslim : 163.)

Istighfar, penutup cela dan penyempurna kekurangan orang yang berpuasa senantiasa akan butuh beristighfar. Dengan istighfar, dia menyempurnakan kekurangan yang ada ketika berpuasa. Dengan istighfar dia memperoleh rahmat Allah, dan dengannya dia menutup seluruh amal shalihnya.

Buku Saku Ramadhan-Kumpulan Twit Seputar Ramadhan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid

Comments are closed.